Senin, 19 Oktober 2009
Sulitnya Mencari Secuil Tempat yang Benar-Benar Aman
Saat penerimaan komuni, dimana aku duduk di bagian depan, aku pun kebagian jatah menerima hosti lebih awal. Dengan demikian, setelah doa setelah komuni memungkinkan aku untuk mengapati umat yang berjajar antre menerima hosti.
Yang menarik perhatianku adalah, satu dua bahkan puluhan ibu-ibu maju membawa serta tas digantung di bahunya. Seketika juga aku berpikir, ini ibu kog ya berlebihan banget di gereja yang dipikir adalah uang atau entah barang berharga apa yang ada di dalam tasnya. Sudah hilangkan hakikat beribadah yaitu kesucian hati dan pikiran untuk menghadap Tuhan sesaat dari penatnya aktivitas duniawi?
Sepertinya memang sudah tak ada tempat aman di dunia ini.
Sungguh mengenaskan sekali.
Ya Tuhan, sebegitu akutkah krisis kepercayaan di dunia ini?
Kamis, 07 Mei 2009
SAATNYA INDONESIA BELAJAR LEGOWO
Banyak faktor yang menjadi penyebab kelambanan pemilu kali ini, dari sudut pandang sistem, pemilu dengan sistem langsung kali ini terbilang pemilu yang paling “ribet”. Maklumlah sistem multi partai dengan partai yang berubah-ubah belum lagi penghitungannya cukup menyita waktu dan tenaga. Acung jempol untuk para anggota Komite Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di daerah-daerah yang berperan dalam proses baik pra, pelaksanaan maupun paska pemilu.
Selama penghitungan suara, selama itu pulalah semua mata dan telinga berusaha untuk selalu tahu perkembangan yang terjadi, apalagi bagi mereka yang berkepentingan secara politis terhadap hasil pemilu. Bagi partai besar yang masuk ranking sepuluh besar, kini posisi mereka terbilang aman. Namun bagi partai-partai “gurem”, rasa-rasanya mereka harus siap mundur secara perlahan tetapi pasti dari arena percaturan politik Indonesia. Sambil menunggu kepastian hasil pemilu dari KPU, kini saatnya Negara ini membuktikan diri sebagai Negara demokrasi yang sesungguhnya, yaitu menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Bicara tentang sportivitas, sepertinya Negara ini perlu dipertanyakan sportivitasnya. Belum lagi hasil penghitungan suara selesai, setiap hari di media massa baik cetak maupun elektronik tak pernah absen dari pemberitaan adanya aksi protes terhadap pemilu oleh para simpatisan partai bahkan oleh para calon legislatif. Dengan catatan, biasanya aksi tersebut dilakukan oleh pihak yang kalah dalam perarungan.
Ujung-ujungnya aksi-aksi konyol mulai dari menyegelan kantor KPU, aksi buka baju bahkan sampai tindak anarkisme adalah menuntut diadakannya pemilihan ulang. Pertanyaanya, sesungguhnya untuk apa pemilu diadakan? Untuk memperbaharui kondisi Negara agar lebih baik ataukah hanya sekedar ajang permainan yang semata-mata mengedepankan kemenangan saja?
Kemenangan adalah motivasi bagi siapa pun saat mengikuti kompetisi bahkan bisa dipastikan kemenangan adalah tujuan. Pemilu adalah sebentuk kompetisi sesaat untuk menghasilkan siapa yang berhak secara sportif memimpin. Apabila pemilu telah usai, maka sportivitas itu sudah layak dan sepantasnya untuk dijunjung tinggi dan kembali pada kebersamaan untuk membangun bangsa dan Negara untuk hal yang lebih baik.
Dimanakah Hakikat Demokrasi Pancasila kita?
Masalah sportivitas berkaitan erat dengan demokrasi. Negara Indonesia yang mengukuhkan diri sebagai Negara demokrasi lambat laun semakin terpuruk dalam krisis kepercayaan yang tak berujung. Setiap orang berjalan dengan akusentrisnya, ingin menjadi yang terdepan dengan motif mencari untung sediri. Bahkan dunia olahraga yang menjadi ruang untuk sportif terkadang dicoreng dengan aksi-aksi brutal para bonek, atau bahkan pemain yang kalah merasa tidak terima dan ujung-ujung memboikot.
Menilik konteks bahasanya, demokrasi berasal dari kata demos dan kratein yang berarti pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Masuk dalam falsafah bangsa Indonesia maka kita mengenalnya sebagai demokrasi Pancasila dengan asas kekeluargaan dan musyawarah, mengandung prinsip persamaan, keseimbangan, kebebasan yang pertanggungjawab, keadilan sosial, musyawarah mufakat, persatuan dan menjunjung tinggi cita-cita nasional.
Pemilihan langsung memang menunjukkan pelaksanaan demokrasi yang sesungguhnya dimana aspek partisipasi masyarakat untuk memilih penyambung aspirasiya terpenuhi. Minimal sebelum menjatuhkan pilihan pada satu nama, seseorang pernah mengalami tahap tahu bahkan sampai mengenal siapa orang yang menjadi wakilnya.
Namun yang menjadi catatan untuk ke depan semoga sistem pemilu lebih disederhanakan sehingga tidak menimbulkan kebingungan masyarakat. Semakin tinggi angka kesadaran poitik masyarakat maka semakin sehatlah iklim perpolitikan kita. Belajar dari Amerika Serikat, saat pemilu Barack Obama dan Hilary Clinton bernah bersaing mati-matian untuk memperebutkan posisi calon presiden dari Partai Demokrat. Saat rakyat sudah menentukan bukan saatnya persaingan dilanjutkan, mereka kini kompak dalam pemerintahan.
Saran untuk bangsa Indonesia, rasanya ada pilihan yang lebih mulia dari sekedar saling menjatuhkan yaitu saling bekerja sama dalam membangun Negara. Semoga mereka yang kalah bersikap legowo dan menjauhkan diri dari sikap kekanak-kanakan, dan bagi yang menang mau merangkul untuk tetap menjalin silaturohmi yang baik.
Jumat, 13 Februari 2009
Valentine’s Day? Positif Thinking sajalah….:)
Pro kontra tentang Valentine’s Day masih berdengung dimana-mana. Tak ada yang salah dengan pendapat. Atas dasar itu pula saya berpendapat melalui blog ini. Sejarah tentang Valentine’s Day menjadi akar dari pro kontra yang terjadi hingga saat ini. Dari berbagai sumber dikisahkan Valentine’s Day berangkat dari Yunani, ada pula versi dari Romawi dan dihubungkan juga dengan Gereja Katolik. Tak ada habisnya jika kita terus mempermasalahkan Valentine’s Day layak atau tidak untuk kita peringati. Ambil hikmahnya saja akan kebutuhan manusia hidup berdampingan dengan damai, jika ada kasih sayang tak akan mungkin ada peperangan, perpecahan. Melalui Valentine’s Day kita diingatkan pada satu titik dalam garis kehidupan kita bahwa kehidupan butuh kasih sayang tak hanya kasih untuk pacar, tetapi untuk siapa saja yang ada di sekitar kita.
Hepi Valentine’s Day
Sabtu, 31 Januari 2009
Solo (lagi-lagi) Banjir
Senin, 12 Januari 2009
JILBAB SOLO PUNYA CERITA
Cikal bakal kerudung bukan asli dari bumi Indonesia. Berangkat dari budaya di Timur Tengah yang menyatu dengan konsep ajaran Islam, kini jilbab menjadi sebentuk simbolisasi agama bagi yang menyandangnya.
Jika ditilik berdasarkan kondisi geografis di Timur Tengah yang ,berada di atas gurun pasir, kehadiran kerudung memang sangat dibutuhkan agar rambut tak mudah lepek akibat terkena debu. Namun, dalam konsep agama Islam lebih menekankan fungsi jilbab sebagai penutup aurat sehingga mengurangi kemungkinan buruk dalam berinteraksi dengan lawan jenis.
Menurut Islam, setiap wanita muslim memang dianjurkan untuk mengenakan jilbab, tetapi pada prakteknya kembali pada kesadaran individunya sudah siap ataukah belum untuk mengenakan jilbab. Kesiapan secara lahir batin menjadi syarat utama karena jilbab berhubungan dengan simbol agama. Siapa yang mengenakannya harus mencitrakan esensi dari simbol itu sendiri. .
Lain dulu lain sekarang, kadar kesiapan memang masih diutamakan. Namun, kini muncul fenomena baru dimana jilbab hadir sebagai bagian dari mode. Semakin banyak wanita yang mengenakan jilbab yang fashionable. Rasanya tidak matching kalau tidak menggunakan jilbab yang senada dengan warna baju dsb. Dengan kata lain, kini tersedia bermacam-macam jilbab yang tak monoton pada bentuk konvensional yang berukuran besar-besar.
Dari Mindset Layar Kaca hingga Anthorium
Berpuluh-puluh bahkan ratusan jilbab memiliki nama. Nama itu tentunya sengaja dibuat agar ia mudah diingat. Bagi bisnis jilbab, kehadiran nama tentunya akan berpengaruh, semacam penglaris yang akan mendongkrak penjualan.
Berdasarkan survai di pusat-pusat grosir Solo, terdapat macam-macam nama jilbab yang kadangkala menimbulkan insting untuk tertawa karena ada-ada saja nama yang diberikan. Nama-nama jilbab yang sedang laris di pasaran Solo antara lain: Jilbab Segi Empat, Teh Ninih, Belah, Serut, Paris. Jilbab-jilbab Itu merupakan jilbab kategori sederhana. Selain itu, ada lagi jilbab yang beradaptasi dari tokoh utama sinetron atau film seperti: Jilbab Muslimah, Kun Fay a Kun, Ayat-Ayat Cinta dan Khumaira. Kategori jilbab ketiga yaitu penamaan berdasarkan asosiasi yang ditimbulkan dengan saat melihat, yaitu ada jilbab Jablay dan Jilbab Kucing Garong. Terakhir nama jilbab berdasarkan trend Anthorium yaitu ada jilbab Gelombang Cinta dan Jenmani.
Jilbab Segi empat menjadi jilbab yang sangat familiar karena sudah dikenal sejak dulu kala. Penggunaan jilbab ini cenderung membutuhkan waktu lama karena dari kain segi empat lebar harus ditata menggunakan acsesoris tambahan berupa jarum pentul atau bros agar bisa tertata sebagai jilbab.
Jilbab Belah. Jilbab ini merupakan generasi jilbab instant dengan variasi belahan ada yang disebut Belah Samping jika belahakn di bagian bahu, dan Belah tengah jika belahan berada di depan dada. Khusus untuk Jilbab belah tengah menggunakan acsesoris bros agar belahan tengah bias dirapikan dan tidak terbuka.
Jilbab Teh Ninih. Jilbab ini merupakan sub dari jilbab belah dengan belahan samping. Model ini beradaptasi dari jilbab yang dikenakan oleh isteri pertama Dai kondang Aa Gym. Tak butuh waktu lama untuk mengenakannya. Jilbab ini terdiri dari dua macam kain, pertama untuk kain pelindung wajah yang teksturnya lebih tebal serta kain yang melingkar hingga dada.
Jilbab Serut. Jilbab ini memiliki ciri khas serutan tali untuk mengencangkan bagian leher. Serutan bisa terletak di samping dan di tengah sehingga menimbulkan ornament lipatan di kedua titik itu.
Jilbab Muslimah. Untuk jilbab yang satu ini beradaptasi dari jilbab yang dikenakan Titi Kamal di Sinetron Muslimah yang ditayangkan di Indosiar. Bentuknya cukup simple hampir menyerupai Jilbab Teh Ninih, Namun divariasi dengan sehelai tali yang melingkar di leher dengan dikaitkan oleh kancing di belakang leher.
Jilbab Ayat-Ayat Cinta. Jilbab ini beradaptasi dari model yang dikenakan oleh Riyanti dalam perannya sebagai Aisyah di film Ayat-Ayat Cinta. Hampir sama dengan jilbab muslimah hanya talinya di samping kiri.
Jilbab Gelombang Cinta. Muncul setelah trend tanaman Anthorium beberapa tahun lalu. Motif yang membedakannya yaitu terletak pada lekuk-lekuk menyerupai gelombang yang melingkar bahu. Selain itu di luar jilbab ditambahi jilbab topi.
Jilbab Jenmani. Jilbab ini hampir sama dengan jilbab belah hanya saja ada tambahan acsesoris kain yang dipasang miring menyerupai tulang dau jenmani di bagian atas kepala.
Jilbab apa yang akan muncul selanjutnya, silahkan tunggu saja. Para tim kreatif jilbab pasti sedang sibuk mencari nama-nama baru. Tak lebih dari 3 bulan diperkirakan akan ada nama-nama baru yang meramaikan keluarga jilbab:).
Selasa, 04 November 2008
PEMILU AS AJANG BELAJAR BAGI INDONESIA
Pemilihan umum Amerika Serikat akhirnya dilaksanakan pada 4 November ini. Selasa pertama setelah senin pertama di bulan November masih dipilih secara turun temurun sebagai hari pemilihan di negara adidaya itu.
Setelah melalui proses cukup panjang yang penuh kontoversi diwarnai perang argument hingga kampanye hitam, pembuktian siapa yang terpilih sebagai orang nomor satu AS atau bahkan orang nomor satu dunia hanya dapat akan terjawab pada 15 Desember nanti setelah electoral votes memutuskannya.
Entah bagaimana yang terjadi di Negara Amerika
Nilai kedekatan Obama memang tak terelakkan sebagai daya tarik yang menjual bagi suatu informasi. Pernah mengenyam hidup di negara kepulauan ini seakan-akan menganggap Obama sebagai bagian dari
Belajar tak mesti meniru mentah-mentah, tetapi belajar adalah mengambil apa yang baik dan membiarkan hal yang dianggap kurang pas. Kembali kepada hakikat bangsa
Kita patut bangga dengan system pemilihan umum dimana sebagai rakyat kita didudukkan sebagai “the real king” untuk memilih siapa presidennya. Namun awas, yang kita pilih bukan popularitasnya, tetapi kualitasnya. Siapa pemimpin RI selanjutnya semoga ia benar-benar karena semangat melayani yang kecil, lemah dan tersingkir.
Minggu, 26 Oktober 2008
Mengapa harus orang lain yang menjadi wasit?
Dalam konteks riil mungkin ini terlalu mengada-ada dan hanya akan berhenti sbg bahan banyolan belaka, tetapi saat kita skeptis mencerna bagaimana kejujuran saat ini saya rasa banyak hal yang bisa kaji. Bisa jadi manusia memang pentok tak bisa jujur secara suratan takdir, atau memang karena asas monodualisme dimana peran orang lain sangat dibutuhkan sehingga dibuatlah konsep wasit untuk memberi lapangan pekerjaan secara merata dan bersinergi.
Kejujuran berpotensi ada pada setiap manusia tinggal ada tidaknya niat untuk mengaktifkannya. Selanjutnya kejujuran berjamaah akan berpotensi pada terciptanya jalan hidup benar entah di ruang keluarga, organisasi, pekerjaan, sampai pada taraf negara. Pasti menyenangkan
